Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2025

Legenda Loro Jonggrang: Cinta, Dendam, dan Candi yang Abadi

Mengulik kisah di balik kemegahan Candi Prambanan, dari permintaan yang mustahil, tipu daya, hingga kutukan yang mengubah seorang putri menjadi arca. 


ilustrasi: Badung Bondowoso dan Rara Jonggrang

Setiap batu di Candi Prambanan menyimpan bisikan sebuah kisah yang telah dituturkan turun-temurun. Lebih dari sekadar kompleks candi yang megah, Prambanan adalah panggung dari salah satu legenda paling tragis dan penuh dendam dalam khazanah Nusantara: Legenda Loro Jonggrang.

Kisah ini bermula di Kerajaan Pengging yang makmur dan Kerajaan Baka yang dipimpin oleh raksasa jelmaan. Sang pemenang dari peperangan antara kedua kerajaan itu, Pangeran Bandung Bondowoso dari Pengging, ternyata terpikat oleh kecantikan Putri Loro Jonggrang dari Baka.

Namun, di balik wajahnya yang ayu, tersimpan luka yang dalam. Bandung Bondowoso telah membunuh ayahnya. Cinta sang pangeran berhadapan dengan benteng dendam sang putri.


Tipu Daya dan Seribu Candi

Loro Jonggrang, yang tak ingin dinikahi oleh pembunuh ayahnya, mengajukan syarat yang mustahil: Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi dalam waktu satu malam.

Dengan kekuatan gaib dan bantuan bala tentara makhluk halus, Bandung Bondowoso hampir berhasil. Satu per satu candi berdiri dengan cepat. Melihat hal itu, Loro Jonggrang pun cemas.

Dia lalu memutar otak dan memerintahkan para dayang untuk membakar jerami dan menumbuk lesung, menciptakan suasana seperti pagi telah tiba. Para makhluk halus yang ketakutan matahari pun lari meninggalkan pekerjaan mereka.

ilustrasi: Candi Prambanan

Kutukan Abadi

Bandung Bondowoso yang murka karena merasa ditipu, mengetahui hanya tersisa satu candi yang belum selesai. Dalam amarahnya, dia mengutuk Loro Jonggrang dengan kata-kata sakti, "Biarlah engkau yang melengkapi candi yang keseribu ini!"

Seketika itu juga, tubuh sang putri berubah kaku, menjelma menjadi arca di dalam Candi Prambanan. Arca yang hingga hari ini dapat kita lihat, menjadi pengingat abadi tentang cinta yang berbalik dendam, kesombongan, dan harga diri.

ilustrasi: Rara Jonggrang

Pelajaran dari Loro Jonggrang

Legenda ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia mengajarkan kita tentang betapa berbahayanya dendam yang dipendam, bagaimana sebuah tipu daya dapat berbalik menghancurkan pelakunya, dan konsekuensi serius dari sebuah sumpah dan janji yang diucapkan.

Jumat, 12 Januari 2018

Wisata Kuliner Khas Kotagede, Yogyakarta

1.       Yangko

Makanan ringan berbahan kacang ini adalah makanan khas Kotagede. Selain enak, makanan ini juga bergizi karena mengandung vitamin yang berasal dari kacang-kacangan. Yangko juga sangat cocok di jadikan sebagai makanan yang disajikan untuk para tamu atau acara keluarga. Yangko juga tersedia dalam berbagai rasa, dari rasa nangka hingga rasa durian. Makanan ringan yang mempunyai tekstur kenyal ini berukuran kecil persegi. Setiap satunya dibungkus dengan kertas minyak. Kemudian di letakkan di dalam dos.Yangko cukup menjadi makanan akternative yang disukai banyak orang.Selain di Kotagede Yangko juga mudah diperoleh di berbagai toko oleh-oleh di Jogja.

Yangko


2.       Legamara/ Lego Moro

Salah satu makanan kecil tradisi­onal Kotagede. Makanan ini dibuat dari bahan-bahan: beras ketan, daging sapi dan kelapa. Bumbu yang diperlukan, antara lain: ba­wang merah dan bawang putih, ketumbar, salam, laos dan gula. Cara membuat: beras ketan di dang (kukus) di karu kemudian di tambahi dengan santan kental dan kemudian dimasak lagi. Bumbu­-bumbu dihaluskan, daging di ca­cah ditambah dengan bumbu, lalu disangrai hingga kering. Ketan diisi dengan daging dan dibentuk segi empat memanjang, kemudian di­bungkus dengan daun pisang dan diikat dengan iritan bambu. Lang­kah terakhir makanan yang telah siap tadi dikukus hingga masak.
 
Legomoro

3.       Kembangwaru

Makanan tradisional khas Kotagede yang dibuat dari bahan tepung beras dengan bumbunya: telur, gula pasir, mentega/minyak kelapa, vanili, kayu manis jangan yang dihaluskan, dan santan. 
Cara membuatnya: telur dan gula dikocok sampai rata, kemudian tepung dan vanili dimasukkan diaduk-aduk sampai rata, setelah itu dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kembang waru dan di pan dengan dioseri (diolesi) mentega/ minyak kelapa. Makanan ini disajikan dan disimpan ke dalamlodhong/toples. Salah satu pengusaha roti kem¬bang waru yang masih bertahan, adalah “Roti Kembang Waru Bu Teguh” , beralamat di Bumen RW 06/24 Kotagede. Untuk memperoleh roti kembang waru Bu Teguh, harus memesan terlebih dahulu (tidak menjual bebas di pasaran)
Kembang Waru


4.       Ukel

Makanan khas Kotagede dengan bentuk seperti cincin. Setelah digoreng, kemudian ditaburi de-ngan tepung gula pasir. Cara membuat: Bahan utama ma-kanan dari tepung terigu, dicampur dengan air santan, bumbu, dan garam. Setelah menjadi adonan yang kental dan liat, kemudian di-pilin dengan kedua tangan dan di-bentuk. Bahan yang telah dibentuk tersebut, lalu dimasukkan ke dalam penggorengan dengan minyak yang banyak.Setelah matang, segera dimasuk-kan ke dalam tepung gula pasir, diaduk-aduk sampai rata. Setelah rata makanan siap untuk dihidangkan.

5.       Kipo

Makanan tradisional khas Kotage­de yang masih tetap eksis sampai saat ini. Dibuat dari bahan ketan, santan, garam, gula dan pewarna hijau dari bahan daun pandan. Di dalamnya terdapat enten-enten (parutan kelapa dicampur dengan gula jawa) dan di panggang meng­gunakan lapisan daun pisang ta-pa minyak.
Cara membuatnya bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk­aduk sampai rata sambil dan ke­kentalan yang diinginkan. Adonan kental dan liat ini kemudian di-ben­tuk mirip kipas dengan ukuran ± 4 x 2 cm, di dalamnya diberi isian enten-enten. Setelah selesai siap untuk dibakar.
Sejarah makanan tradisional Ko­tagede cukup panjang. Dalam ki­tab Centini disebutkan makanan yang disebut kupo, yang sekarang disebut sebagai kipa. Juga dalam buku karangan De Graaf disebut­kan makanan khas tradisional yang biasa disajikan bagi para ta­mu. Dari sejarah lisan dapat dike­tahui bahwa Panembahan Sena­pati ternyata menyukai jenis ma­kanan tertentu yang sekarang se­ring dijadikan bancaan atau sesaji waktu ada orang Midhang atau ti­rakat di sekitar Makam Panem­bahan Senapati.
Mengenai asal-usul nama kipa, menurut beberapa penduduk, ka­rena para bangsawan yang disu­guhi kipa dan menyantapnya, lalu bertanya “iki apa” ? Lama-lama makanan itu lebih dikenal dengan nama kipa. Dalam perkembangan­nya kini, makanan ini masih dite­ruskan generasi berikutnya oleh keluarga Mulyo Wiharto dan adik­nya Gito Suharjo. Mulyo Wiharto diteruskan oleh anaknya bernama Supardi yang tinggal di Kampung Mranggen.

Kipo